Sejarah Berdirinya Dinasti Abbasiyah 750M

Daftar Isi [Tampil]

Sejarah awal berdirinya Bani Abbasiyah

Gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Dinasti Umayyah menemukan momentumnya ketika tokoh-tokoh termasuk Muhammad bin Ali, anggota keluarga Abbas yang menjadikan kota Khufa sebagai pusat kegiatan perlawanan. Gerakan Mohammed bin Ali mendapat dukungan dari kelompok loyalis, yang selalu menjadi masyarakat kelas dua.

Selain itu, ada juga dukungan kuat dari kelompok Syiah yang mengklaim hak mereka untuk berkuasa setelah direbut oleh Bani Umayyah. Kelahiran Bani Abbasiyah pada tahun 750 M adalah sebagian besar dari garis keturunan Hasyim bernama Abu al-Abbas. Nama Abbasiyah yang digunakan untuk nama suku ini diambil dari nama pendiri negara Abbasiyah, Abbas bin Abd al-Muttalib, paman Nabi Muhammad.

Proses kelahiran kembali Bani Abbasiyah dimulai dengan kemenangan Abu al-Abbas al-Asafa dalam perang terbuka (Zab) melawan khalifah terakhir Umayyah, Marwan bin Muhammad. Abu al-Abbas diberi gelar Safaa karena dia berani dan mampu bermain dengan ujung pedangnya melawan lawan politiknya. Semua lawan politik diperangi dan dikejar, dan diusir dari tanah Abbasiyah yang baru saja direbut dari Bani Umayyah.Penciptaan Bani Abbasiyah pada tahun 750 M berarti bahwa semua tanah Islam secara resmi berada di bawah pemerintahan Abbasiyah termasuk semua tanah Bani sebelumnya.

Umayyah pertama kecuali tanah Umayyah di Andalusia. Proses perkembangan peradaban yang dibangun oleh Bani Abbasiyah dengan cepat membawa perubahan besar dalam perkembangan peradaban ilmiah selanjutnya. Al-Budairi Bani Abbasiya diperintah oleh 37 penerus selama 505 tahun dengan kemampuan menciptakan peradaban yang menjadi pusat dunia saat itu, peradaban yang masih dikenang. Saat itu suasana belajar sedang kondusif, dan pemerintah menyediakan fasilitas pendidikan yang lengkap. Motivasi belajar merupakan sumber semangat masyarakat untuk belajar.

Baca Juga : Sudah Tahukah Kamu ? Tasawuf Itu Ada Dan di Mulai Oleh Abu Hasyim al-Kufi abad ke-3 H

Mereka, masyarakat, mengunjungi tempat-tempat belajar seperti penulis, sekolah dan universitas seperti universitas. Universitas yang terkenal saat itu adalah Nizamiyya yang dibangun oleh Perdana Menteri Nizam al-Mulk untuk Khalifah Harun al-Rasyid. Khalifah Harun al-Rasyid terkenal sebagai Khalifah yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, baik dalam pembelajaran maupun dalam membangun sarana belajar seperti; Sekolah dan perpustakaan menyediakan guru dan membentuk gerakan penerjemahan. Abu al-Abbas al-Asafa sebagai pendiri Bani Abbasiyah, masa kepemimpinannya sangat singkat, memerintah hanya 4 tahun, namun ia berhasil menciptakan suasana dan kondisi bagi Bani Abbasiyah yang steril sebagai keturunan Bani Umayyah secara politik.

lawan yang hanya dikalahkan dan dikuasai. Sikap tegas dan berani yang ditunjukkan oleh Khalifah Abu Abbas al-Safa ketika menetapkan kebijakan pada masa berdirinya Bani Abbasiyah dengan berani menyapu bersih seluruh keturunan Bani Umayyah dari tanah yang dikuasainya. Efek dari kebijakan ini dapat dilihat dari suasana pusat wilayah dan masyarakat baru Abbasiyah menjadi lebih nyaman dan Khalifah Abu al-Abbas al-Asafa dapat mengontrol perkembangan peradaban.

Ternyata keberhasilan Abu al-Abbas dalam menaklukkan dinasti Umayyah pertama sangat didukung oleh para tentara bayaran yang sengaja didatangkan oleh Abu al-Abbas, seperti Abu Muslim al-Khorasani. Abu Muslim adalah seorang sukarelawan Persia yang sengaja dipekerjakan oleh dinasti Abbasiyah untuk membantu menaklukkan kekuasaan Bani Umayyah pertama. Demikian sahabat pembaca sipil mengulas latar belakang berdirinya negara Abbasiyah.

Sumber Unit 4 Evolusi Islam Setelah Masa Khalfur Rasedin, Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2018.

Kekalifahan Abbasiyah merupakan kelanjutan dari Kekalifahan sebelumnya yakni Bani Umayyah, dimana pendiri dari kekalifahan ini adalah Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas Rahimahullah. Pola pemerintahan yang diterapkan oleh Daulah Abbasiyah berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M) s.d. 656 H (1258 M).

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Daulah Abbas menjadi lima periode:

Periode Pertama (132 H/750 M - 232 H/847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. Dimulai dari pengangkatan [[Khalid Bin Barmak]] sebagai pengganti dari [[Abu Muslim Al Khurasani]] Menjadi Wazir dan keluarganya pun mengisi posisi-posisi penting dalam Pemerintahan Abbasiyyah. Periode Kedua (232 H/847 M - 334 H/945 M), disebut periode pengaruh Turki pertama. Periode Ketiga (334 H/945 M - 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Bani Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. Periode Keempat (447 H/1055 M - 590 H/l194 M), masa kekuasaan daulah Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua (di bawah kendali) Kesultanan Seljuk Raya (salajiqah al-Kubra/Seljuk agung). Periode Kelima (590 H/1194 M - 656 H/1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Baghdad dan diakhiri oleh invasi dari bangsa Mongol.



Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.

Baca Juga :Wasiat Doa Nekto Dilulu KH. AHMAD MARZUQI ROMLI GiriLoyo Bantul Yogyakarta

Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini sangat singkat, yaitu dari tahun 750-754 M. Selanjutnya digantikan oleh Abu Ja'far al-Manshur (754-775 M), yang keras menghadapi lawan-lawannya terutama dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi'ah. Untuk memperkuat kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir dibunuh karena tidak bersedia membaiatnya, al-Manshur memerintahkan Abu Muslim al-Khurasani melakukannya, dan kemudian menghukum mati Abu Muslim al-Khurasani pada tahun 755 M, karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya.

Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahun 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Persia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya, di antaranya dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa dinasti Bani Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekadar untuk mengantar surat. Pada masa al-Manshur, jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah.

Baca Juga : Sekantong Air Cukup Untuk seluruh Rombongan, Mujizat Nabi Muhammad ﷺ

Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara usaha-usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, kota Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicilia pada tahun 756-758 M. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan mendekati selat Bosphorus. Di pihak lain, dia berdamai dengan kaisar Constantine V dan selama gencatan senjata 758-765 M, Bizantium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berhadapan dengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia, Turki di bagian lain Oxus, dan India.

Pada masa al-Manshur ini, pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata:

“ Innama anii Sulthan Allah fi ardhihi (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya) ”

Degan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekadar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- Khulafa' al-Rasyiduun. Di samping itu, berbeda dari daulat Bani Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai "gelar takhta", seperti al-Manshur, dan belakangan gelar takhta ini lebih populer daripada nama yang sebenarnya.

Kalau dasar-dasar pemerintahan daulah Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu al-Abbas as-Saffah dan al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun Ar-Rasyid (786-809 M), al-Ma'mun (813-833 M), al-Mu'tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M).

Post a Comment

Previous Post Next Post
close