SANG WALI AUTAD | MBAH UMAR AL HAFIZH 5 Agustus 1916

Daftar Isi [Tampil]

WALI AUTAD

Wali Autad ini jumlahnya ada empat yang berada di empat penjuru mata angin dengan tugas menjaga wilayahnya masing-masing agar tetap seimbang.
Menurut satu pendapat, ke empat Wali ini akan saling bertemu setiap tahun tepatnya pada pelaksanaan Haji di Mekkah.






Di antara empat Wali Autad ini terkadang ada yang wanita, keempat Wali Allah tersebut masing-masing memiliki gelar yaitu;
a) Abdul Haiyi
b) Abdul Alim
c) Abdul Qadir
d) Abdu Murid




Wali Autad juga di sebut Wali Paku Jagat.
"Kemudian Wali Autad mereka berjumlah empat orang tempat mereka mempunyai empat penjuru tiang-tiang, mulai dari penjuru alam timur, barat, selatan dan utara dan Maqam setiap satu dari mereka itu, Mereka memiliki 8 Amaliyah;
Empat bersifat Lahiriyah, dan empat bersifat Batiniyah."


$ads={1}




Maka yang bersifat Lahiriyah;
a) Banyak Puasa
b) Banyak Solat Malam
c) Banyak Pengutamaan (Lebih mengutamakan yang Wajib kemudian yang Sunnah) 
d) Memohon keampunan sebelum fajar
Adapun yang bersifat Bathiniyah;
a) Tawakkal
b) Tafwidh
c) Dapat dipercaya (Amanah)
d) Taslim



Al 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Ma'shum Ahmad Lasem suatu ketika pernah menyebut, "Ada beberapa ulama yg menjadi paku bumi tanah Jawa, mereka yakni KH. Arwani Amin Kudus, KH. Abdul Hamid Pasuruan, Hb. Anis b. Alwi Al Habsyi Solo dan KH. Ahmad Umar Abdul Manan Mangkuyudan."



Tdk hanya itu, Al 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Mubassyir Mundzir Bandar Kidul Kediri, juga pernah menyatakan bahwa Mbah Umar yg seumur hidupnya selalu menjaga wudhu dan shalat berjama'ah itu adalah salah seorang wali autad, yaitu tingkatan wali yg setiap masa anggotanya hanya empat orang.


Al 'Arifubillah Almaghfurlah KH. Ahmad Umar Abdul Manan lahir pada 5 Agustus 1916 merupakan salah seorang tokoh ulama kharismatik dari Solo yg termasyhur sebagai seorang kyai penghafal Al Qur'an yg diberi keistimewaan mengetahui banyak tentang rahasia kandungan Al Qur'an.



Di sebutkan sebelum menjadi pengasuh di Pondok Pesantren Al Muayyad, Mbah Umar begitu biasa beliau disapa, sempat nyantri di beberapa pesantren diantaranya di pesantren Termas Pacitan, pesantren Mojosari Nganjuk, pesantren Popongan Klaten dan pesantren Krapyak Yogya. Di pesantren yg terakhir inilah, Mbah Umar mendapatkan silsilah qira'ah sab'ah yg bersambung dari KHR. Muhammad Munawwir hingga ke Rasulullah SAW.
Oleh sebab itulah, sebutan pesantren Al Qur'an juga melekat kuat pada Pesantren Al Muayyad hingga sekarang. 



Pada zamannya, Mbah Umar menjadi rujukan utama bagi santri-santri yg ingin mengaji Al Qur'an, baik Bin Nazhor maupun Bil Ghaib. Meski demikian, tdk semua santri mendapatkan ijazah dan sanad langsung dari Mbah Umar.



Sebab Mbah Umar terbilang sangat hati-hati dalam memberikan ijazah. Meski santri tahfizhul Qur'annya ribuan, namun tdk banyak santri yg telah mendapatkan ijazah sanad Al Qur'an. Hal ini disebabkan persyaratan ketat yg diterapkan Mbah Umar yg meliputi akhkaq, ketekunan dlm beribadah serta kesungguhan dlm menuntut ilmu.




Di tengah kesibukannya dlm mengajar, Mbah Umar ikut memperhatikan keberlangsungan jam'iyyah Nahdlatul Ulama, khususnya di wilayah Solo Raya. Di masa kepemimpinannya, Al Muayyad bergabung menjadi anggota Rabithah Al Ma'ahid Al Islamiyyah Nahdlatul Ulama dgn nomor anggota: 343/B tgl: 21 Dzulqa'dah 1398H/23 Oktober 1979 M di bawah pimpinan KH. Ahmad Syaikhu.



Meskipun Mbah Umar tdk pernah mengemban amanah di kepengurusan NU secara struktural, namun dukungannya kpd NU begitu besar. Salah satu kisah, ketika NU memutuskan keluar dari Masyumi, setelah isitikharah Mbah Umar langsung mengganti plang Masyumi yg tadinya dipasang di sekitar kompleks pondok dgn plang NU.



Demikian pula ketika terjadi kemelut pada NU, yg berujung pada terbelahnya NU menjadi dua kubu, yaitu Kubu Situbondo dan Kubu Cipete. Ketika KH. Dian Nafi' bertanya perihal kejadian itu kpd Mbah Umar, beliau kemudian menjawab pertanyaan itu,




"Orang itu pangkatnya lain-lain. Ada yg pangkatnya memikirkan NU, ada yg pangkatnya mengurusi NU. Lha kita ini baru sampai pangkat mengamalkan NU. Ya sudah, bagian kita ini saja kita laksanakan. Mengajar santri, ngopeni org kampung. Jangan sampai terlalu banyak orang memikirkan dan ngurusi NU tapi langka yg mengamalkannya," jawab Mbah Umar.




KH. Ahmad Umar Abdul Manan wafat pada tgl 11 Ramadhan 1400 H/ 24 Juni 1980 M, meninggalkan seorang istri, Al 'Arifatubillah Nyai Hj. Shofiyyah Umar alias Mbah Ti. Atas permintaan dua sahabatnya, KH. Abdul Ghoni Ahmad Sajadi dan H. Wongso Bandi, jenazah sang wali autad ini dimakamkan di belakang masjid Al Muayyad di tengah kompleks pesantren yg didirikannya.
Diceritakan bahwa dua bulan sebelum kewafatan Mbah Umar, kedua orang yg dekat dgn beliau itu sempat berbincang bahwa biasanya pesantren akan pudar pamornya bila kyai nya wafat tanpa meninggalkan anak. Utk mengatasi hal ini berdasarkan petunjuk kyai sepuh, hendaknya jasad Mbah Umar dimakamkan di kompleks pesantren. 


$ads={2}



Diibaratkan, liang lahat sang kyai akan menjadi "bintang" yg selalu memancarkan cahayanya hingga tdk memudarkan pamor pesantren yg ditinggalnnya.




Berikut adalah dawuh Mbah Umar yg ada di pintu makam beliau:
Wasiate Kyai Umar maring kita
Mumpung sela ana dunya dha mempengo
Mempeng ngaji ilmu nafi' sangu mati
Aja isin aja rikuh kudu ngaji




(Pesan Kyai Umar kepada kita, Mumpung masih hidup mari membiasakan diri. Membiasakan diri mengaji ilmu yg bermatabat utk bekal mati. Jangan malu dan sungkan utk mengaji.)

Post a Comment

Previous Post Next Post
close